Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 12 September 2014




Kita KOPITES bukan LIVERPUDLIAN!!
Ayo dibaca INFO PENTING (baca : copy & paste) dari
wall grup
BIGREDS IOLSC Regional Bandung. Berawal dari
postingan
teh Dhini Renata yang mengoreksi kesalahan
penggunaan
istilah Liverpudlian untuk menyebut pendukung
LFC, diskusi
kemudian berkembang menjadi suatu pembahasan
yang
menyeluruh tentang kata Liverpudlian itu sendiri.
Albert
Shadrach,
salah seorang member BIGREDS pun urun
informasi yang ke
mudian menjadi ide awal dibuatnya dokumen ini.
Diharapkan
dokumen ini dapat memberikan pengetahuan yang
baik bagi
anggota grup ini.Berikut adalah kutipan informasi
dari bung
Albert dengan sedikit penyesuaian
alinea :LIVERPUDLIAN
ADALAH BERARTI WARGA KOTA LIVERPOOL. Tidak
ada
satupun quotes/ merchandises/chants/ yells resmi
LFC yg
menyebutkan kata "Liverpudlian" yang merujuk
kepada arti
→ supporter. Dan supporter LFC disebut KOPITE
(dibaca:
Kopayt), sedangkan bentuk jamaknya adalah
KOPITES
(dibaca: Kopayts). Lantas dari manakah semua
kesalah-
kaprahan ini berasal?
Dalam chant "Poor Scouser Tommy", ada lyrics:
"Oh, I am a
Liverpudlian. And I come from The Spion Kop".
Inilah awal
mula kesalah-kaprahan tersebut di INDONESIA.
Apa? Di Indonesia?
Ya, benar, hanya di Indonesia saja kita mendengar
pendukung LFC menyebut diri Liverpudlian. Di
negara lain tak
ada yang salah kaprah, mereka menyebut diri
mereka
KOPITES. Adapun makna dari lyrics tadi: si Tommy
ini adalah
prajurit Inggris yang dikirim ke Libya saat Perang
Dunia II.
Dan disetiap Dog Tag akan tertera dari Divisi
manakah dia,
dan dicantumkanlah bahwa dia berasal dari divisi
di kota
Liverpool. Itulah sebabnya sebelum tewas, dia
berkata
bahwa dia adalah seorang Liverpudlian (warga kota
Liverpool). Namun, kecintaannya terhadap LFC
membuat
Tommy yang sedang sekarat pun tetap bangga
mengaku
sebagai seorang KOPITE (supporter LFC), dengan
berkata
bahwa dia tak hanya sebagai warga kota Liverpool
semata,
melainkan dia berasal dari The Spion Kop
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield
yang
paling bawel ngchants pada saat itu).
Dengan keterbatasan informasi di Indonesia,
terutama di era
1970 - awal 1980 an dimana kaum muda hanya
mengenal
sepakbola luar negeri melalui Dunia Dalam Berita,
dan
pertandingan final sepakbola hanya sesekali
ditayangkan
secara langsung oleh TVRI di pertengahan 1980 an,
ditambah
dengan lebih mudahnya menghafal kata
Liverpudlian (karena
memiliki susunan huruf yang mendekati Liverpool)
dibandingkan "Kopites", dan ditambah dengan
tingkat
kesalah-kaprahan yang tinggi didalam penggunaan
kata di
masyarakat Indonesia, membuat penyebaran
kesalahan
makna "Liverpudlian" ini menjadi semakin cepat,
dan malah
menggeser Kopites sebagai istilah yang benar.
Apalagi
kemudian diperparah pula dengan watak kita
semua yang
"udah salah, ngotot pula". Dan juga watak
"membiarkan
kesalahan berlanjut karena gak mau repot", dan
juga watak
"berkelakar-bercanda diseputar kesalahan".
Akhirnya pada saat pertengahan 1990 an dimana
persaingan
TV Swasta mulai merebak, mengakhiri kejayaan
tunggal RCTI
dengan Decoder-nya, maka muncullah ide untuk
menayangkan secara langsung pertandingan sepak
bola Liga
Inggris oleh salah satu Direktur Utama TV saat itu.
Dan si
presenter pertandingan di TV Indonesia kerap
menyebut kata
"Liverpudlian" saat dia berceloteh mengenai
supporter LFC.
Pengaruh media sangatlah luas, dan akhirnya
mencuci otak
para anak muda yang rata2 SMA atau baru masuk
kuliah saat
era pertengahan 1990 an itu. Mereka2 ini kerap
berkumpul
sepulang kuliah dan akhirnya semakin meluas pula
kesalahan
penggunaan kata "Liverpudlian" ini. Saat bertemu
orang lain
yang menggunakan t-shirt/ atribut LFC, akan
dengan ramah
disapa: "oh, kamu Liverpudlian juga yah?" yang
semakin
membuat penggunaan ngaco ini berlanjut. Hingga
puncaknya
adalah Twitter dimasa kini.
Lantas, dari manakah istilah KOPITES itu berasal?
Ya, tepat. Rujukan kata itu bersumber dari THE
KOP, atau
The Spion Kop (salah satu tribun di stadion Anfield).
Awalnya,
penggunaan istilah Kopites ini disematkan kepada
orang2
keturunan Scandinavia, terutama buruh-buruh
kapal
Norwegia, yang banyak berlabuh di Liverpool. Mereka ini lebih kasar, pemabuk, namun lebih "garis keras"
dalam
mendukung tim sepakbola (saat itu Everton lebih
diminati
oleh Liverpudlian -- warga kota Liverpool --
dibandingkan tim
sekota yg baru muncul, LFC). Sedangkan
penggunaan istilah
The Kop ini bersumber dari penghargaan terhadap
prajurit
korban Second Boer War, dimana banyak prajurit
Inggris
yang tewas berasal dari kota Liverpool.
Nah, pada perkembangannya, LFC tampak lebih
menarik
untuk disimak, sehingga para Liverpudlian (warga
kota
Liverpool) mulai menyematkan istilah KOPITES
kedalam diri
mereka, karena mereka turut melebur kedalam
suasana
mendukung LFC. Dan seiring dengan perjalanan
waktu,
sejarah demi sejarah ditorehkan oleh LFC, akhirnya
muncullah sebutan bagi para supporter LFC yang
non -
Liverpudlian, bukan warga kota Liverpool, dengan
sebutan
WOOLS.
Julukan ini "sedikit" bernada merendahkan, dalam
artian:
Wools hanya bisa mendukung lewat TV di
negaranya, tak
hadir disetiap pertandingan kandang di Anfield,
atau tak
nongkrong rutin di THE ALBERT (Pub diseberang
The Kop).
Para pendukung LFC (Kopites) notabene kini
merupakan
Liverpudlian (warga kota) dan tak lagi buruh kapal
luar
negeri, bahkan sebagian besar merupakan
SCOUSER (sub-
race/ suku bangsa berlogat). Sehingga saat
kejayaan LFC
berimbas ke dunia luas, maka penggunaan julukan
"Wools"
bagi supporter LFC non warga kota Liverpool pun
semakin
luas. DAN JIKA KALIAN MASIH NGOTOT
MENGGUNAKAN
ISTILAH "LIVERPUDLIAN" saat kalian nanti ke
Anfield, maka
bersiaplah untuk diejek oleh beberapa oknum
Kopites yang
mabuk.
Biasanya mereka langsung mengenali kita sebagai
tourist
(turis), mereka akan ramah menyapa kita, dan jika
kalian
memang cinta LFC, maka katakanlah: "I am a
Liverpool FC
Kopite too, by the way", dan mereka akan semakin
ramah
dan akrab, menyapamu dengan jawaban: "Oh, so
you are a
Wool, glad to hear that. It's ring a bell for sure.
Another pin,
mate?".
Tapi bayangkanlah jika kesalah-kaprahan
penggunaan
"Liverpudlian" ini terjadi, maka mereka akan
langsung
mengenali logat English kalian yang jelas2 sangat
tidak ber-
scouser, dan mereka (jika mabuk) akan
mengejekmu
meminta kalian mengeluarkan ID Card (Kartu Tanda
Penduduk) kota Liverpool.
Kesalahkaprahan penggunaan kata didalam bahasa
Indonesia, dan serapan bahasa asing kedalam
Bahasa
Indonesia sangatlah mudah ditolerir. Dan sebagai
sesama
KOPITES, tentunya para Liverpudlian (warga kota
Liverpool) --
jika bukan oknum yang sedang mabuk -- akan
melayani kita
dengan ramah, apalagi status kita sebagai tourist,
sebagai
Wools (pendukung LFC yg berasal dari luar kota
Liverpool,
bahkan luar negeri).
Akhirnya, demi untuk menjalin silaturahmi, JIKA
KAMU
BERTANYA seperti ini: "Saya pendukung LFC, tapi
saya bukan
warga kota Liverpool. Apakah saya boleh menyebut
diri saya
sebagai seorang Liverpudlian?", maka karena
keramahan
mereka, para orang kota Liverpool ini akan
menjawab: "Oh,
tentu saja boleh" untuk menghargai perkenalan
kalian. Inilah
yang kemudian menyebabkan EVOLUSI BAHASA.
Penggemar
LFC di Indonesia sangatlah banyak, dan hampir
semuanya
menyebut mereka sebagai Liverpudlian, dan bukan
Kopites.
Please jangan menyebut kalian sebagai Wools,
secara itu
adalah "ejekan tidak langsung". Dan ditambah pula
dengan
adanya istilah EVERTONIAN bagi fans Everton FC
dikalangan
para Liverpudlian (warga kota Liverpool). Akhirnya,
penyematan label "Liverpudlian" menjadi sangat
maklum
dikalangan para tourist. Dalam bahasa sinisnya,
para Kopites
akan "yaaaaaaaa, yaaaaaaaa, whatever" jika kalian
mengaku2
sebagai Liverpudlian (padahal maksudnya adalah
sebagai
Kopites).
Saking dimaklum-nya, akhirnya menjadi semakin
maklum,
kesalah-kaprahan semakin berlanjut, dan bahkan
"dicantumkan" oleh seseorang (non Scouser)
kedalam kamus
tak resmi LFC bahwa → Liverpudlian adalah warga
kota
Liverpool, namun karena ada Evertonian
(pendukung EFC),
maka Liverpudlian juga dapat bermakna sebagai
fans
(penggemar) LFC. Ingat, fans ... PENGGEMAR, dan
bukan
seperti KOPITES yang bermakna sebagai
SUPPORTER/
pendukung.
Berdasarkan penjelasan tadi, maka kita semua
semakin
cerdas, sadar, dan mengerti. Ini bukan mengenai
"setuju
atau tidak setuju". Ini bukan mengenai "toleransi
atau alibi
tidak diterima". Ini mutlak mengenai kebiasaan
salah kaprah
didalam penggunaan bahasa asing.
Ingat, budaya sepakbola di Inggris JAUUUUUHH
melebihi
budaya sepakbola di negara lain. Tak perlu
disangkal, karena
semua orang sudah tau siapakah bangsa pendiri
olah raga
yang satu ini.
KESALAH-KAPRAHAN PENGGUNAAN BAHASA AKAN
TERUS
BERLANJUT DAN MENYEBAR, tinggal dari diri kalian,
apakah
kalian ingin semakin cerdas, atau kalian
membandel dan
ngotot dan tidak mau semakin mencerahkan
pengetahuan.